Tampilkan postingan dengan label Cerita-cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita-cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Mei 2021

NAGASASRA SABUK INTEN (070)

 

Kini kembali Mahesa Jenar dengan pengembaraannya. Mula-mula ia berjalan menyusur
jalan yang dilaluinya ketika ia mengikuti Ki Asem Gede. Tetapi ia tidak mau terus
sampai ke Prambanan. Karena itu, ketika jalan ini akan memasuki belukar, ia mengambil
jurusan lain. Ia memilih jalan yang membelok ke barat, menyeberangi Sungai Opak.
Meskipun ia sama sekali belum mengenal daerah yang dilaluinya, tetapi sedikit banyak ia
mengenal ilmu perbintangan yang diharapkan dapat menuntunnya ke arah yang
dikehendaki.

NAGASASRA SABUK INTEN (069)

 

“Kakang Mantingan, terpaksa aku tidak dapat mengubah keputusanku. Banyak hal yang
dapat aku lakukan kalau aku melanjutkan perjalananku. Mungkin aku dapat menemukan
sarang Lawa Ijo di hutan Mentaok atau gerombolan orang-orang berkuda yang membuat
upacara-upacara aneh dengan mengorbankan gadis-gadis itu.”
Sampai sekian Mantingan sudah menduga bahwa sulitlah baginya untuk tetap menahan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar meneruskan.
“Kakang Mantingan, meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, namun aku masih tetap ingin mengabdikan diriku.

NAGASASRA SABUK INTEN (068)

 

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jawaban, didengarnya dari arah samping suara gemersik rumput kering. Cepat ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.
Ternyata apa yang dijumpainya mengejutkannya pula. Orang yang datang itu adalah Ki Dalang Mantingan. Sesaat darah Mahesa Jenar jadi berdegupan. Kalau ada orang ketiga yang menyaksikan hadirnya Nyai Wirasaba di tempat itu, dapatlah menimbulkan
bermacam-macam kemungkinan. Tetapi karena ia percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan menjelekkan namanya, maka segera ia pun dapat menguasai dirinya kembali.
Sementara itu terdengar Mantingan berkata.
“Adimas, maafkanlah kalau kedatanganku sangat mengejutkan Adimas.”
“Tidak. Tidak seberapa Kakang Mantingan. Tetapi sudah lamakah kakang berada di
sini?” jawab Mahesa Jenar sambil menggeleng lemah.

Rabu, 17 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (067)

Sekali lagi dada Nyai Wirasaba yang penuh itu terguncang. Ia menjadi bertambah gusar mendengar kata kata Mahesar Jenar itu.. Tetapi seperti halnya Mahesa Jenar yang tak dapat menjajagi perasaannya, Nyi Wirasaba pun tidak tahu sama sekali akan ketulusan hati Mahesa Jenar. Bahkan ia menyangka bahwa dalam kesempatan itu Mahesa Jenar ingin memancing-mancing untuk meraba-raba perasaannya. Karena itu dengan marahnya ia berkata, Tuan, aku tidak menyangka bahwa hati Tuan ternyata palsu. Maka baru sekarang aku mengerti kenapa suamiku berkata, bahwa tak mungkin seseorang menyabung nyawanya tanpa pamrih. Tetapi Tuan jangan mimpikan air mengalir ke udik.
Sekarang Mahesa Jenar yang merasa dadanya terguncang. Ia tidak dapat membayangkan bahwa wanita cantik seperti Nyai Wirasaba itu dapat sedemikian marahnya sehingga mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan demikian pedihnya. Karena itu, seluruh tubuh Mahesa Jenar menggigil karena ia berusaha menahan diri. Disamping itu ia mulai merasa bahwa mungkin perkataan-perkataannya telah menyinggung perasaan Nyai Wirasaba. Maka dalam kebingungan itu, ia hanya dapat berdiri terpaku seperti patung.

Selasa, 16 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (066)

Nyai Wirasaba adalah seorang wanita yang berperasaan halus, sehalus rambut dibelah tujuh. Ditambah pula
sudah beberapa tahun ia meladeni suaminya yang cacat kaki, sehingga ia manjadi semakin perasa. Maka
ketika ia mendengar perkataan Mahesa Jenar, ia terperanjat. Meskipun Mahesa Jenar sama sekali tak
bermaksud jahat, dan perkataannya itu diucapkan dengan jujur menurut perasaannya, tetapi akibatnya
seperti sembilu yang lansung membelah ulu hati Nyai Wirasaba. Sebagai seorang wanita yang dididik oleh seorang saleh seperti Ki Asem Gede, maka sudah tentu ia mementingkan sifat-sifat keutamaan seorang wanita. Diantaranya sifat setia dan bakti kepada suaminya. Dengan demikian, maka perkataan Mahesa Jenar telah menggelorakan darahnya. Ia merasa tersinggung dengan anggapan itu. Meskipun ia sangat mengagumi keperwiraan seseorang, namun ia menjadi gusar juga karena tuduhan itu. Maka dijawabnya kata-kata Mahesa Jenar itu dengan suara yang bergetar.

Minggu, 14 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (065)

Nyai Wirasaba, pada saat sebelum perkawinannya, sangat mengagumi suaminya karena ketangguhan, kejantanan serta keberaniannya. Tetapi kemudian suaminya menjadi lumpuh, sehingga tak ada lagi yang dapat dikaguminya. Meskipun demikian ia tetap mencintainya. Tiba-tiba muncullah seorang yang menurut anggapannya sangat mengagumkan pula, berani dan bersifat jantan. Ketika Mahesa Jenar keluar dari ruang tidurnya dan berdiri di halaman, sebenarnya Nyai Wirasaba sudah berada di halaman pula, untuk membeningkan pikirannya yang kusut. Mendadak pada saat itu terdengarlah aum harimau di kejauhan. Ketika dilihatnya Mahesa Jenar, menjadi gembira dan berlari ke arah suara itu, tanpa sadar ia segera mengikutinya untuk sekadar dapat menyaksikan sikap jantan Mahesa Jenar. Meskipun ia tidak berlari secepat Mahesa Jenar, arah suara harimau yang mengaum berkali-kali itu telah menuntunnya sampai ke tempat pertarungan itu. Apalagi ketika ia menyaksikan bagaimana Mahesa Jenar membunuh lawannya. Hatinya menjadi melonjak dan tak dapat dikuasainya lagi. Karena itulah, ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Jenar, ia menjadi agak bingung.

Sabtu, 13 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (064)

Demikian Mahesa Jenar jatuh terguling beberapa kali, segera ia meloncat dan tegak kembali tepat pada
saatnya. Sebab pada saat itu, harimau yang marah itu telah siap kembali menerkam. Tetapi setelah
mengalami kegagalan, rupanya harimau itu mendapat suatu pengalaman, bahwa dengan suatu terkaman
dari jarak yang jauh, ia tak berhasil menguasai mangsanya. Maka kali ini harimau itu tidak lagi merunduk
lalu meloncat. Perlahan-lahan tetapi pasti, harimau itu mendekati lawannya.
Mahesa Jenar bertambah berhati-hati melihat perubahan sikap harimau itu. Untuk melawan langsung seekor
harimau sangatlah berbahaya. Kuku-kukunya serta gigi-gigi yang tajam itu dapat merobek kulitnya. Maka
diputuskannya untuk segera mengakhiri perkelahian.
Mahesa Jenar segera bersikap. Tanpa mempergunakan unsur-unsur pendahuluan untuk menekan lawannya.

Senin, 08 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (063)

Sambil mengaum keras, harimau itu dengan garangnya meloncat akan menerkam Mahesa Jenar. Kedua kaki
depannya menjulur hampir lurus dengan tubuhnya. Kuku-kukunya yang tajam siap merobek-robek
mangsanya. Sedang taring-taringnya yang tajam-runcing, menyeringai. Mengerikan sekali. Tetapi Mahesa
Jenar adalah seorang yang telah terlatih baik untuk menghadapi setiap kemungkinan dan segala macam
bahaya. Maka ketika dilihatnya harimau itu meluncur menerkamnya, dengan cekatan Mahesa Jenar
merendahkan diri dan meloncat ke samping.
Harimau itu kembali mengaum dengan hebatnya. Rupanya ia sangat marah ketika mangsanya terlepas dari
terkamannya. Tetapi selama harimau itu masih mengapung di udara, ia sama sekali tak dapat mengubah
geraknya.
Ketika harimau itu mendarat di tanah, ia menjadi terkejut sekali. Tidak saja karena sasarannya telah
menghindarkan diri, tetapi juga karena tiba-tiba saja terasakan sesuatu yang menghantam punggungnya,

Minggu, 07 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (062)

Tetapi pukulan itu tidak akan memenuhi harapan, bila saat itu tidak dibarengi dengan
suatu kekuatan batin yang luar biasa besarnya, serta pemusatan tenaga. Inilah sebenarnya
yang sulit dilaksanakan. Untuk dapat melakukan ini semua, Mahesa Jenar harus bekerja
keras beberapa tahun lamanya.
Latihan-latihan itulah yang sangat terasa berat. Pada taraf permulaan Mahesa Jenar harus
melatih mengatur pernafasan, kemudian pemusatan pikiran dan terakhir menggabungkan
segenap kekuatan lahir batin. Semua itu untuk disalurkan lewat sisi telapak tangannya.
Dalam pelaksanaannya tidaklah mesti 10 unsur gerak itu dilakukan berurutan. Tetapi
unsur yang hanya sekadar merupakan patokan yang dapat dibolak-balik, diambil
beberapa bagiannya saja menurut kebutuhan. Bahkan dapat dimasuki dan digabungkan
dengan unsur-unsur gerak yang lain.

Sabtu, 06 Juli 2019

NAGASASRA SABUK INTEN (061)

Maka, dengan tak sesadarnya Mahesa Jenar mengamat-amati tangannya dengan jari-jarinya
yang kokoh kuat. Telah berapa jiwa melayang karenanya, selama ia berusaha
menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan sekarang, tangan ini harus siap membunuh
pula, juga untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Bahkan alangkah menariknya
untuk mengetahui pula kejadian-kejadian dalam pertemuan yang akan diselenggarakan
oleh golongan hitam itu, pada saat purnama naik, bulan terakhir tahun ini.
Maka dengan tidak sengaja pula, Mahesa Jenar bangkit dan berjalan mondar-mandir di
dalam ruangan itu. Malam sudah begitu dalam dan sepi. Kecuali suara-suara binatang
malam yang sekali-kali memecah sunyi.
Pada saat yang demikian tiba-tiba saja timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mencoba
kembali kekuatan tenaganya. Mungkin akan berguna nanti. Kalau ada kesempatan,
bukankah suatu hal yang baik sekali untuk membinasakan segala tokoh-tokoh hitam pada
saat mereka berkumpul? Tetapi mereka pun bukanlah kumpulan anak-anak kecil yang
dapat ditakut-takuti oleh seekor anjing yang sedang menggonggong.
Belum lagi Mahesa Jenar mendapat sasaran untuk memulai, tiba-tiba didengarnya sayupsayup
suara yang bergetar panjang, mendirikan bulu roma. Suara itu menggetarkan udara
seperti getaran gelombang pantai. Bagi penduduk Pucangan, suara itu memang sering
terdengar. Bahkan hampir setiap malam, apabila kademangan itu telah terbenam dalam
sunyi malam. Setiap penduduk kademangan yang mendengar suara mengerikan itu
tubuhnya tentu akan menggigil karenanya.

Selasa, 18 Juni 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (060)

Oleh SH Mintarja

Akan aku coba, tetapi harus perlahan-lahan. Sebab bisa di dalam tubuh Wirasaba telah bekerja terlalu lama. Kalau tubuhnya itu tidak mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia telah lama binasa. Karena itu aku tidak berani mengobatinya sekaligus. Benturan yang berlebihan di dalam tubuhnya antara dua jenis bisa itu akan dapat membunuhnya. Dan untuk itu akan memerlukan waktu, jawab Ki Asem Gede.
Akhirnya Ki Asem Gede minta kepada Mahesa Jenar untuk diizinkan meminjam biji bisa itu. Ia akan mencoba sedikit demi sedikit mengobati kaki Wirasaba yang bertahun-tahun tak dapat dipergunakan.
Sementara itu malam menjadi semakin dalam. Bunyi jangkrik terdengar saling bersahutan dengan kemersik daun yang digerakkan oleh angin malam sejuk. Sementara itu, Ki Asem Gede atas nama anak menantunya mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat.
Tetapi malam itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasrat untuk tidur. Ketika ia sudah membaringkan dirinya, teringatlah kembali semua peristiwa yang dialaminya pada hari-hari terakhir. Maka barulah terasa penat-penat di bagian-bagian anggota badannya.

Jumat, 26 April 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (059)

Oleh SH Mintarja


Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndamnya dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam di dalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.
Mahesa Jenar sebagai sahabat paling dekat Ki Ageng Sela, tidak hanya mendapat kesempatan membebaskan diri dari segala pengaruh bisa dan racun, tetapi ia juga mendapat hadiah dari sahabatnya, sebagian dari biji bisa itu. 
Dengan biji bisa itu Ki Ageng Warana telah membebaskan dirinya sendiri dari berbagai macam bisa. Juga Ki Ageng Sela dan bahkan Mahesa Jenar sebagai seorang sahabat karib Nis dari Sela, mendapat kesempatan untuk menikmati kasiatnya pula.
Oleh Ki Ageng Warana, biji bisa ular itu direndam dalam air, yang kemudian dengan mempergunakan duri yang telah direndam didalam air itu, untuk menusuk simpul-simpul jalan darah. Dengan demikian, mereka tawar dari segala macam bisa.

Selasa, 05 Maret 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (058)

Oleh SH Mintarja


Sela adalah seorang yang luar biasa. Geraknya cepat melampaui kilat. Bahkan sampai beberapa orang mengatakan bahwa ia mewarisi kecepatan bergerak ayahnya yang juga bergelar Ki Ageng Sela, yang menurut ceritera dapat menangkap petir.
Pada suatu kali, ketika Ki Ageng Sela sedang menyepi di tepi sendang Jalatunda, tiba-tiba ia disambar oleh semacam sinar putih kebiru-biruan. Untunglah bahwa ia dapat bergerak cepat luar biasa, sehingga ia dapat menghindari sambaran sinar itu. Bahkan ia masih juga sempat menangkapnya.
Tetapi demikian tangannya menyentuh benda itu, terkejutlah ia bukan kepalang. Sebab pada saat itu   tangannya terasa telah menangkap seekor binatang yang bulat panjang.
Untunglah bahwa sebelumnya ia pernah mendengar ceritera tentang seekor ular yang pandai terbang dan bercahaya. Ular yang diceriterakan menjadi penggembala hujan. Maka secepat kilat benda yang ditangkapnya itu sebelum sempat menggigitnya, dibantingnya ke tanah.

Rabu, 20 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (057)

Oleh SH Mintarja


Karena itu aku tidak berani memperpanjang waktu. Ramuan obat yang aku berikan hanya sekadar menahan bisa itu saja. Tetapi karena kaki Wirasaba kedua-duanya hampir tak dapat lagi dipergunakan, terpaksa aku memapahnya, ujar Ki Asem Gede.
Baru ketika sampai di rumah, di bawah cahaya lampu, aku dapat mengetahui dengan pasti bahwa potongan-potongan besi itu direndam dalam ramuan warangan yang kuat sekali. Aku mempunyai dugaan bahwa warangan itu dicampur dengan bisa sejenis laba-laba hijau yang terdapat di hutan Tambak Baya, tambahnya.
Meskipun Ki Asem Gede sudah berusaha keras sebagai seorang tabib, tetapi sama sekali tak berhasil melawan bisa itu. Yang dapat dilakukan hanyalah membatasi menjalarnya  racun itu ke bagian tubuh  yang lain.
Itulah Anakmas  Mahesa Jenar dan Adi Mantingan, sebab-sebab yang menimbulkan cacat pada Wirasaba. Tetapi hal yang membesarkan hatiku adalah, bahwa anakku tetap setia pada janjinya, meskipun laki-laki yang dikaguminya itu telah cacat. Sehingga perkawinan mereka pun dapat dilangsungkan, jelas Ki Asem Gede.

Senin, 18 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (056)

Oleh SH Mintarja


Tetapi ternyata, Wirasaba yang telah sekian kali merantau, menjelajahi beberapa daerah, memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sedangkan Pradangsa hanyalah seorang tokoh lokal yang telah mencapai puncak kekuatannya. Ia sudah merasa tak terkalahkan. Memang Pradangsa adalah seorang kuat atas pemberian alam.
Maka ketika terjadi benturan itu, tampaklah betapa picik pengetahuan Pradangsa. Ia hanya memusatkan tenaga serta perhatiannya pada kedua belah tangannya. Dengan sepenuh tenaga yang ada padanya menghantam tangan Wirasaba yang menyerang dadanya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pada sekejap sebelum benturan itu terjadi, Wirasaba mengubah serangannya dengan menarik tangan kirinya. Ketika tangan kanannya membentur tangan Pradangsa, ibu jari tangan kirinya sempat mengetuk leher Pradangsa.
Akibat benturan itu pun sangat hebat sekali. Bagaimanapun uletnya Wirasaba, ia tergetar surut. Demikian juga Pradangsa, terdorong mundur. Karena ketukan jari pada lehernya, Pradangsa merasa bahwa nafasnya menjadi sesak. Inilah sumber kekalahan Pradangsa. Sebab dalam perkelahian seterusnya, Pradangsa selalu diganggu oleh peredaran nafasnya yang semakin lama terasa semakin sesak dan sakit.

Jumat, 15 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (055)

oleh SH Mintarja


“Dalam kecemasanku itu, tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara seruling Wirasaba. Tetapi setelah itu aku menjadi bersyukur. Bahkan aku menjadi berbangga hati. Suara seruling yang mesra lembut itu segera berubah melengking tajam. Kemudian Wirasaba berteriak penuh kemarahan karena cintanya terganggu. Yang sama sekali tak aku duga, adalah bahwa kemarahan Wirasaba yang dilontarkan lewat nada-nada serulingnya itu pun ternyata mengandung pengaruh yang luar biasa pula. Maka kemudian seakan-akan terjadilah benturan dahsyat antara suara tertawa Pradangsa dengan nada-nada seruling. Wirasaba yang sebentar melonjak, naik tajam, dan kemudian turun menukik kembali, lalu menggelegar seperti guruh yang dengan penuh kemarahan menghantam gunung,” cerita Ki Asem Gede.
Karena benturan itulah maka seolah-olah tercapailah suatu keseimbangan, sehingga kedua suara itu semakin lama semakin lirih ... semakin lirih. Bahkan akhirnya keduanya berhenti dengan sendirinya. Tepat pada saat suara itu berhenti, meloncatlah sebuah bayangan dari seberang, dengan tangkasnya dari batu ke batu menyeberangi sungai Opak. Dari geraknya yang cepat dan tangkas, sudah dapat dikira sampai dimana kekuatan tenaganya. Belum lagi Pradangsa menjejakkan kakinya di tepian, mulutnya sudah mendahului berteriak dengan suara gunturnya.

Kamis, 14 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (054)

Oleh SH Mintarja


Pada suatu hari yang telah ditentukan, dilangsungkanlah pertemuan itu di atas sebuah gundukan pasir di pinggir sungai Opak. Aku yang selalu kecemasan, memerlukan dengan diam-diam berusaha untuk dapat mengikuti pertemuan yang tidak menyenangkan itu.
Yang mula-mula datang ke tempat itu adalah Wirasaba, tepat pada saat warna merah di langit yang terakhir terbenam ke dalam warna kelam. Rupanya sengaja ia datang lebih awal untuk mengetahui keadaan tempat itu.
Setelah beberapa saat ia mengamati tempat itu sejengkal demi sejengkal, maka duduklah Wirasaba di atas sebuah batu di tepi sungai yang mengalirkan airnya yang jernih. Dari dalam bajunya dikeluarkannya sebuah seruling yang terbuat dari pring gadhing. Sambil menunggu kedatangan lawannya, ia mulai berlagu dengan serulingnya itu. Baru sekali itu aku mendengar Wirasaba meniup serulingnya. Dan memang sudah sewajarnyalah kalau ia mendapat sebutan Seruling Gading, kata Ki Asem Gede.

Rabu, 13 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (053)

Oleh SH Mintarja


Kemudian denyut jantung Samparan turun dengan cepatnya. Wajahnyapun menjadi semakin pucat. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk melanjutkan ceritanya.
 Bulan terakhir tahun ini, tepat pada saat purnama naik, di lembah Tanah Rawa-rawa, akan hadir dalam pertemuan itu antara lain Lawa Ijo dari Mentaok. Sepasang Uling dari Rawa Pening sebagai tuan rumah, yaitu Uling Kuning dan Uling Putih. Suami-istri Sima Rodra dari Gunung Tidar, Djaka Soka, Bajak Laut yang berwajah tampan dari Nusakambangan, yang mendapat julukan Ular Laut. Sebenarnya Samparan masih akan berkata menyebut beberapa nama lagi, tetapi ia sudah terlalu lemah. Sudahlah Samparan. Jangan pikirkan semua itu. Tenangkanlah dan beristirahatlah, potong Ki Asem Gede.
Samparan tersenyum buat terakhir kalinya. Ia menarik nafas panjang, dan sesudah itu terhentilah denyut jantungnya. Mereka yang menyaksikannya, untuk sesaat menundukkan kepala masing-masing dengan rasa haru.

Selasa, 12 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (052)

Oleh SH Mintarja


Naga Sasra dan Sabuk Inten, potong Dalang Mantingan mengejutkan. Ya, demikian mereka menyebut namanya. Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi yang sepasang, yang mereka perebutkan itu masih meragukan. Pasingsingan mengira bahwa keris itu hanyalah keturunannya saja, sedang yang asli masih berada di keraton. Untunglah bahwa pada saat Lawa Ijo akan mencuri pusaka-pusaka itu, ada dua orang prajurit terlepas dari pengaruh sirepnya yang terkenal. Empat orang anak buah Lawa Ijo terbunuh, sedangkan Lawa Ijo sendiri terluka di bagian dalam dadanya, jelas Samparan.
Sekarang Mahesa Jenar semakin bertambah jelas bahwa Lawa Ijo yang berusaha memasuki gedung perbendaharaan itulah yang dimaksud oleh Samparan.
Untunglah bahwa ada orang-orang seperti kedua prajurit itu. Alangkah gagahnya. Kemudian Lawa Ijo dapat mendengar bahwa kedua prajurit itu bernama Rangga Tohjaya dan Gajah Alit, tambah Samparan. Sekarang Ki Asem Gede dan Mantingan yang terperanjat. Rangga Tohjaja adalah Mahesa Jenar. Jadi kalau demikian Mahesa Jenar pernah bertempur, bahkan melukai Lawa Ijo. Dengan tak mereka sadari terloncatlah sebuah pertanyaan dari mulut Ki Asem Gede, Jadi Anakmas pernah melukai Lawa Ijo?

Senin, 11 Februari 2013

NAGASASRA SABUK INTEN (051)

Oleh SH Mintarja

 Biarlah aku coba, desak Ki Asm Gede, meskipun ia sendiri sudah melihat, bahwa hampir tak ada kemungkinan untuk mengobati luka Samparan itu. Kembali Samparan memaksa dirinya tersenyum dan menggeleng perlahan-lahan. Ki Sanak Mahesa Jenar ..., sebelum aku mati, baiklah aku katakan kepadamu suatu rahasia yang ingin kau ketahui. Bukankah sekarang aku tidak perlu takut kepada Lawa Ijo dan kepada siapapun? Kau mau mendengar? desah Samparan kemudian. Mahesa Jenar segera merapatkan dirinya. Lalu jawabnya, Aku ingin mendengar, Samparan. Tetapi sekarang bukan waktunya. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah, karena itu kau harus beristirahat. Samparan menarik nafas dalam-dalam. Waktuku tinggal sedikit. Dengarlah. Menurut Watu Gunung, Lawa Ijo sekarang berada di Pasiraman. Sebuah telaga kecil di seberang hutan Mentaok. Desa tempat tinggalnya itu pun bernama Desa Pasiraman pula.
 Desa itu terletak tepat di tepi hutan. Agak ke barat sedikit terdapatlah hutan yang hampir dipenuhi oleh pohon pucang, sehingga hutan itu disebut Alas Pucang Kerep, kata Samparan.  Samparan berhenti sebentar. Terdengar arus nafasnya semakih cepat.