Watu
Gunung berperawakan tinggi gagah, bertubuh kekar, dan sebenarnya ia agak tampan
juga. Kalau ia sejak semula menjadi orang baik-baik, mungkin ia juga akan
mendapatkan istri yang cantik. Tetapi sekarang, hampir semua perempuan menjadi
pingsan kalau mendengar nama Watu Gunung disebut orang.
Sekarang,
sambil menunggu siang, sebaiknya tamu-tamu ini kami persilahkan beristirahat di
gandok sebelah timur. Adi Wisuda, tolong antarkanlah tamu kita ke sana, kata
Samparan. Orang yang dipanggil Wisuda, salah seorang dari lima orang itu,
segera mempersilahkan Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar untuk mengikutinya ke
gandok sebelah timur. Di sana, mereka berdua ditinggalkan untuk beristirahat.
Ki
Asem Gede terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, ketika dilihatnya Mahesa Jenar
segera merebahkan dirinya di amben.
Ki Asem Gede, semalaman aku tidak tidur, dan
pagi-pagi benar aku sudah harus berpacu kuda dengan Ki Asem Gede, maka
sebaiknya aku tidur sebentar agar aku nanti dapat melayani Watu Gunung itu
dengan sedikit ada kegembiraan, kata Mahesa Jenar.
Sesudah
berdiam diri sebentar, terdengarlah segera nafas Mahesa Jenar mengalir secara
teratur. Ia sudah tertidur.
Ki
Asem Gede heran bukan main. Sebentar lagi ia harus mengadu tenaga antara hidup
dan mati melawan seorang yang termasuk mempunyai kehebatan dalam tata pertarungan.
Tetapi sekarang, dengan enaknya ia tidur mendekur.
