“Baiklah kakang Rangga,” jawab Gadjah Alit.
Dan setelah beberapa saat tak terjadi apa-apa, perlahan-lahan dan berhati-hati
sekali mereka berdua menyelinap pintu belakang ruang jaga dengan tidak
membangunkan seorang pun, agar orang yang bermaksud jahat itu sama sekali tak
menduga bahwa diantara sekian banyak penjaga itu ada yang terluput dari
sirepnya.
Dengan
berlindung pada bayang-bayang dan batang-batang tanaman mereka berdua
menyelidiki keadaan taman itu dengan seksama. Gadjah Alit ke utara, sedangkan
Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya ke selatan. Beberapa lama mereka tak menemukan
tanda apa-apa. Malahan halaman dalam istana itu rasanya jauh lebih sepi dari
biasanya. Tapi Mahesa Jenar dan Gadjah Alit adalah orang-orang yang penuh
dengan pengalaman dan mempunyai ketajaman batin yang luar biasa.
Mahesa
Jenar yang meskipun pada waktu itu belum melihat adanya sesuatu yang
mencurigakan, tetapi ia sudah mendapat firasat bahwa ia telah berdekatan dengan
apa yang dicarinya. Itulah sebabnya ia segera diam menenangkan diri di belakang
sebuah tanaman yang agak rimbun. Dipusatkannya segala perhatiannya ke suasana
di sekelilingnya. Angin aneh yang ternyata adalah mengalirnya kekuatan sirep
dari seseorang yang cukup kuat ilmu kebatinannya, masih saja bertiup. Bahkan
daya sirep itu demikian kuatnya sehingga baik Mahesa Jenar maupun Gadjah Alit
harus tetap menyediakan sebagian perhatianya untuk tetap melawan pengaruhnya.
