Samparan
dengan sangat terpaksa akan menjawab pertanyaan itu. Tetapi sebelum mulutnya
bergerak, tiba-tiba ia merasa Mahesa Jenar mendorongnya sehingga ia
terpelanting jatuh. Dan sementara itu sebuah pisau belati melayang tepat
lewat tempatnya berdiri tadi, langsung mengenai dinding dan tembus masuk ke
dalam rumah. Dalam pada itu, berkelebatlah sesosok tubuh di antara penonton
meloncat lari meninggalkan halaman.
Mantingan
tidak mau melepaskan orang itu begitu saja. Secepat kilat ia memburunya, yang
kemudian disusul oleh Mahesa Jenar. Tetapi Mantingan belum berpengalaman
menghadapi orang-orang gerombolan Lawa Ijo. Maka ia tidak menyangka sama
sekali bahwa orang yang dikejarnya itu tiba-tiba berhenti membalikkan
diri, dan sebuah sinar putih menyambar dadanya. Mantingan terkejut bukan main.
Secepat kilat ia memukul sinar putih itu dengan trisulanya. Terdengarlah suara
berdentang hebat.
