“Dalam
kecemasanku itu, tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh suara seruling Wirasaba.
Tetapi setelah itu aku menjadi bersyukur. Bahkan aku menjadi berbangga hati.
Suara seruling yang mesra lembut itu segera berubah melengking tajam. Kemudian
Wirasaba berteriak penuh kemarahan karena cintanya terganggu. Yang sama sekali
tak aku duga, adalah bahwa kemarahan Wirasaba yang dilontarkan lewat nada-nada
serulingnya itu pun ternyata mengandung pengaruh yang luar biasa pula. Maka
kemudian seakan-akan terjadilah benturan dahsyat antara suara tertawa Pradangsa
dengan nada-nada seruling. Wirasaba yang sebentar melonjak, naik tajam, dan
kemudian turun menukik kembali, lalu menggelegar seperti guruh yang dengan
penuh kemarahan menghantam gunung,” cerita Ki Asem Gede.
Karena
benturan itulah maka seolah-olah tercapailah suatu keseimbangan, sehingga kedua
suara itu semakin lama semakin lirih ... semakin lirih. Bahkan akhirnya
keduanya berhenti dengan sendirinya. Tepat pada saat suara itu berhenti,
meloncatlah sebuah bayangan dari seberang, dengan tangkasnya dari batu ke batu
menyeberangi sungai Opak. Dari geraknya yang cepat dan tangkas, sudah dapat
dikira sampai dimana kekuatan tenaganya. Belum lagi Pradangsa menjejakkan
kakinya di tepian, mulutnya sudah mendahului berteriak dengan suara gunturnya.
