Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang.
Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya, tiba-tiba laki-laki yang
tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia
memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya
mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.
Pikiran
yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan
kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu
bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.
Demang
tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.
Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang
watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar , ia
tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
Bolehkah aku bertanya? kata Demang tua itu dengan nada
yang berat tetapi sopan dan rumah. Siapakah nama Ki
Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki
Sanak bukanlah orang dari daerah kami.
